cool hit counter

PDM Kabupaten Garut - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Garut
.: Home > Berita > PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH : PENDIDIKAN UNGGUL BAGI SEMUA

Homepage

PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH : PENDIDIKAN UNGGUL BAGI SEMUA

Kamis, 08-09-2016
Dibaca: 1479

PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH : PENDIDIKAN UNGGUL BAGI SEMUA

Oleh Agus Rahmat Nugraha

(Wakil Sekretaris Pimpinan daerah Muhammadiyah garut)

Secara historis, hampir semua peneliti pendidkan dan pengamat Islam di Indonesia menyepakati bahwa Muhammadiyah merupakan pelopor pembaruan pendidikan Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia (Steenbrink, 1994; Delir Noer, 1994, Wirjosukarto, 1968, dan Benda 1980).[1]Salah satu latar belakang K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (1912) berkaitan dengan gagasan pemikirannya tentang sistem pendidikan yang semestinya bagi umat Islam sesuai dengan sumber ajarannya yang memajukan. Sejak awal, bahkan, sebelum mendirikan Muhammaidyah K.H. Ahmad Dahlan sudah menaruh perhatian khusus mengenai arti penting pendidikan yang inovatif dan progresif bagi umat tanpa harus kehilangan identitasnya. Dalam konteks ini, Prof.Dr. A. Mukti Ali menyebutnya dengan ungkapan “reformulasi ajaran dan pendidikan Islam”, atau menurut M. Basit Wahid, “memperbaharui sistem pendidikan Islam secara modern sesuai dengan kehendak dan kemajuan zaman”.

Visi dan misi pendidikan Muhammadiyah dapat dibaca dalam dokumen-dokumen gerakan Muhammadiyah awal, dan sekurangnya ada dua dokumen penting yang memberitahu  tentang visi kemanusiaan pendidikan Muhammadiyah.

Dokumen pertama, berupa transkrip pidato K.H. Ahmad Dahlan dalam Kongres Muhammadiyah  bulan Desember 1922 berjudul “Kesatuan Hidup Manusia”  yang pertamakali dipublikasikan oleh Hoofdbestuur (HB) Majlis Taman Pustaka, dalam dokumen ini K.H. Ahmad Dahlan menyampaikan bahwa:”sebagian besar pemimpin belum menaruh perhatian pada kebaikan dan kesajahteraan manusia, akan tetapi baru memperhatikan kaum dan golongannya sendiri, bahkan badannya sendiri, jika badannya sudah memperoleh kesenangan mereka merasa  berpahala dan seolah telah sampai pada tujuan dan maksud. “

Dokumen kedua,prasaran PP (dulu HB) Muhammadiyah dalam Kongres Islam Cirebon yang tercantum dalam Laporan tahun 1922, secara rinci  dokumen ini dapat dibaca dalam buku “Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, karya Abdul Munir Mulkhan, terbitan Bumi Aksara tahun 1990. Dari dokumen kedua ini Muhammadiyah menyatakan: “Jadi orang Islam itu bersifat dua, yaitu sifat guru dan sifat murid….tiap orang Islam ada dua wajib …., yakni belajar dan mengajar ….. dimana-mana harus diadakan tempat  mengajar agama Islam. siapa saja diterima datang di tempat itu akan mendengarkan pengajaran guru keliling …. Gerak orang Islam …. Itu harus menuju satu  …., yakni selamatnya dunia.  Rasa demikian itu menjadi rasa sekalian orang Islam …. Mengharuskan …. Persatuan segala  manusia bagi segala perbuatan (muamalah) untuk keperluan hidup manusia. Jadi perhubungan anatara  orang islam  dengan siapa juga tidak dilarang untuk keperluan hidp segala manusia …. Dalam sekolah itu lain dari pada pengajaran agama belaka, harus diajarkan pengajaran biasa ….”[2]

            Dua dokumen di atas kiranya perlu dikaji kembali oleh kita warga dan simpatisan Muhammadiyah, sebab visi dan misi awal dari spirit pendidikan Muhammadiyah adalah merealisasikan fungsi Islam yang rahmatan lil’alamin, yakni pendidikan bermutu bagi semua oang dengan tujuan kesejahteraan manusia dan kemajuan peradaban dunia. Perlu kajian atas dokumen ini dirasa sangat relevan, dengan kondisi dimana banyak satuan pendidikan Muhammadiyah sekarang ini yang didalamnya terdiri dari siswa-santri, guru dan pengelola yang berasal dari luar Muhammadiyah, disamping tentu saja problem akut yang ironis, dimana banyak anak keluarga Muhammadiyah yang justeru bersekolah tidak di institusi Muhammadiyah, baik atas karena pilihannya atau keadaan “terpaksa” untuk tidak bisa dididik di perguruan Muhammadiyah. Tak terkecuali tentu yang paling primer adalah tergeradasinya “spirit bermuhammadiyah” dalam mengelola  perguruan Muhammadiyah.

RUH GERAKAN DALAM PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Dalam paper ini, penulis menggunakan istilah ruh gerakan, dan mencoba menghindari istilah lain sebut saja paradigm, perspektif dan lainnya, dan alasannya utamanya adalah untuk melihat lebih ke wilayah internalisasi yang menjiwai gerakan pendidkan Muhammadiyah yang tidak larut oleh zaman, sementara istilah lain yang disebutkan di atas sangat dibatasi ruang dan waktu.Dalam sebuah Lokakarya Pengembangan Mutu Pendidikan Muhammadiyah yang diselengarakan oleh Majlis Diklitbang dan Majlis Dikdasmen PP Muhammadiyah Tahun 2006, ada pernyataan yang menarik dari H.A. Malik Fadjar, bahwa dulu pendidikan Muhammadiyah  itu memakai ikon perguruan, untuk seluruh jenjang dan level pendidikan di Muhammadiyah.  Dari nama perguruan itu, menurutnya  terkandung sebuah “ruh” pendidikan dalam Muhammadiyah, yaitu ruh atau etos pergerakan atau gerakan.  Dengan ruh pergerakan, maka pendidikan dalam Muhammadiyah memiliki fungsi sebagai wahana dan produser pelaku gerakan, selain itu memiliki misi mengembangkan mutu dan aspek-aspek lain dalam pendidikan Muhammadiyah, yang harus senantiasa diperhatikan semangat pergerakan. ”bahkan lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah harus menjadi pusat pergerakan Muhammadiyah”.

            Dari pernyataan di atas, di ujungparagrap  disebutkan bahwa institusi pendidikan Muhammadiyah idealnya adalah pusat pergerakan Muhammadiyah, artinya misi, usaha, faham agama serta nilai-nilai ideal yang selama ini menjadi ciri khas menjadi shibgah penting dalam menyelenggarakan pendidikan Muhammadiyah. Poin  yang ingin disampaikan adalah bahwa pendidikan Muhammadiyah tidaklah sekedar mengeluarkan lulusan, akan tetapi terkait  dengan misi  Muhammadiyah, yakni mewujudkan Masyarakat IsIam yang sebenar-benarnya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah digariskan.[3]  komitmen kepada ruh pergerakan dalam pendidikan menjadi demikian urgen, ketika di sementara lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai tergoda (jika tidak dikatakan sudah lama) pada fragmatisme “bisnis pendidikan” “politik pendidikan” yang sama sekali tidak berkait dengan  faham dan misi Persyarikatan. Dan bagaimana pula  agar pendidikan Muhammadiyah  kembali atau tetap konsisten pada karakter dasar pendidikan Muhammadiyah, yakni mengintegrasikan iman, keprribadian dan kemajuan  secara simultan, tidak lepas sendiri-sendiri, temasuk tentu saja sebagai wahana persemaian kader-kader Muhammadiyah, sehingga  komitmen terhadap ruh  pergerakan tidak sekedar life service, semata-ata klaim atau sekedar atibut formal. Dan inilah problem-problem yang coba penulis elaborasi dalam paper ini.

KARAKTER DASAR PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Formulasi iman dan kemajuan sebagai basis gerakan dan cia-cita yang harus diwujudkan bagi kemaslahatan hidup umat manusia.  Dalam perspektif Kuntowijoyo  pikiran K.H. Ahmad Dahlan adalah refleksi spiritual dan keluasan progresivitasnya, dimana diantara pembaruan dalam agama dan pendidikan, barangkali Muhammadiyah menempati kedudukan tersendiri karena usahanya  yang keras untuk memadukan iman dan kemajuan.Perkaderan yang built indalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Perkaderan dan pendidikan dalam satu tarikan nafas ini memiliki akar sejarah yang kuat, karena ketika K.H. Ahmad Dahlan merintis cikal bakal sekolah Muhammadiyah terkandung maksud dan tujuan bukan hanya untuk mencerdaskan umat semata, tetapi juga guna menyiapkan anak-nak muda terbaik sebagai kader dan generasi penerus gerakan pembaharuan.

Pendidikan karakter harus kembali menjadi bagian dari keunggulan dan kekhasan perguruan Muhammadiyah untuk membangun nila-nilai utama, dengan prinsip iman dan kemajuan serta kesadaran mengenai urgensi perkaderan dalam pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum pendiikan ala Muhammadiyah disemua jenjang, maka upaya pendidikan karakter by design akan dirasakan oleh warga didik dan menjadi nilai lebih ketika mereka lulus dari perguruan Muhammadiyah denga prasyarat kompetensi: religiusitas, integritas, kompetensi, cakap, mandiri dan berbudaya unggul. Ada catatan penting dalam Tanwir Muhammadiyah tahun 2009 di Bandar Lampung yang menggarisbawahi kembali mengenai signifikansi pendidikan karakter[4] ini sebagai berikut :

Pertama, membangun kultur sekolah dan perguruan tinggi Muhammaidyah untuk memekarkan karakter warga didik yang unggul dan berkemajuan dalam konteks kebangsaan dan keumatan. Dalam konteks ini diperlukan sebuah format dan strategi kebudayaan nasional Indonesia yang bersifat transformasional (bukan sekedar mozaik simbolik atau dogma sebagaiamana selama ini dijadikan museum kasur tua, meminjam istilah Haidar Nashir) yang berangkat dari cita-cita kemerdekaan dan kebudayaan masyarakat Indonesia menuju  kepribadian Indonesia yang maju, religious dan berperadaban tinggi sebagaimana  spirit yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideology dan falsafah bangsa.  Bagaimana ciri bangsa Indonesia yang bermartabat sejajar dengan lain yang kuat karakter/kepribadiannya sekaligus adaptif terhadap kemajuan/perkembangan zaman. Dalam hal ini termasuk merumuskan strategi “counter culture’ terhadap kecenderungan sekulerisasi kehidupan yang semakin membentuk sikap hidup orang Indonesia yang materialistic (pengabdi harta), indivisualistik (pengabdi ego), konsumeristik (pengabdi barang-barang niaga), hedonistik (pengabdi kesenangan duniawi), dan mengalami anomalie (penyimpangan perilaku) yang pada akhirnya meruntuhkan daya hidup dan eksistensi sebagai bangsa yang religius dan berperadaban mulia.[5]

Kedua, mentransformasikan pendidikan nasional sebagai strategi kebudayaan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, sekaligus mengendalikan dan mencegah kecenderungan pragmatisme dunia pendidikan yang selain sekedar menghasilkan “modular man” (insan modular seperti mesin/robot) yang lemah mental/kepribadiannya.  Dalam hal ini pendidikan agama dan budi pekerti(baca: Ismubaris/Aik) harus ditransformasikan sebagai nilai-nilai yang memberikan basis profetik, sublimatif, ineratif, kritis, liberatif dan kreatif.  Dengan demikian jangan sekali-kali membiarkan dunia pendidkan (perguruan Muhammadiyah) dihegemoni oleh kekuatan globalisme dan neoliberalisme, yang menjadikan lembaga pendidikan dimodifikasi secara besar-besaran laksana pabrik, yang kian memperlemah dirinya sebagai institusi kebudayaan untuk membangun peradaban serta kian membebani rakyat kecil. Dalam kaitan ini Mansour Fakih menduga bahwa institusi-institusi pendidikan modern saat ini sedang didominasi oleh paradigm pendidikan liberal dengan menggunakan pendekatan positivistic dengan asumsi universalisme dan generalisasi. Alhasil pendidkan model demikian justeru bersifat indivisualistik, positivistik, bebas nilai dan tidak berpihak. Inilah model pendidikan yang manghasilkan sebuah output yang bersifat kapitalistik. Sebab output semacam ini sangat acuh  terhadap kondisi realitas sosialnya, berusaha memperkaya diri sendiri (individualistik) dan berusaha melanggengkan nilai-nilai yang telah mapan (status quo).[6]  Tatanan nilai ini sangat ironis, padahal UU Sisdiknas sudah sangat melhat nilai-nilai luhur sebagai tujuan akhir (common goal) pendidikan nasional.[7] Dan pendidikan hendaknya merupakan proses humanisasi yang dilakukan dengan sadar dan tencana. Pola humanis atauhumanizing humanbeing[8](memanusiakan manusia) dalam bahasa Freire, penyadaran dalam bahasa Mangunwijaya, pengangkatan manusia muda ke taraf insan dalam bahasa  Driyarkara dan principle of reaction dalam bahasa Ki Hajar Dewantara.

 

KARAKTERISTIK PENDIDIKAN UNGGUL

Wacana pendidikan unggul sebenarnya sudah mengemuka sejak tahun 1980-an, namun hingga kini implementasinya belum begitu menggembirakan. Oleh karena itu dalam pola dasar pengembangan jangka panjang (2000-200) dipandang perlu untuk ditandaskan kembali. Muhammadiyah akan konsen dan berkhidmat dalam kerja-kerja untuk “mempercepat proses pengembangan institusi pendidikan Muhammadiyah sebagai pusat keunggulan dengan menyusun standar mutu dan menjadikan mutu sebagai sebagai tujuan utama bagi seluruh usaha pengembangan usaha  pengembangan amal usaha pendidikan Muhammadiyah” . [9]

Berdasarkan perspektif mikro, Prof. A. Chaedar Al-Wasilah menyebut tujuh (7) karakteristik pendidikan unggul, yaitu : (1)Visi dan misi sekolah yang jelas; (2) Komitmen tinggi tenaga kependidikan untuk unggul; (3) Kepemimpinan yang mumpuni; (4) Kualitas pembelajaran yang unggul; (5)Lingkungan yang aman dan teratur; (6) Hubungan yang baik antara rumah dan sekolah; dan (7) Monitoring kemajuan siswa berkala.[10]

Ada Lima (5) karakteristik Pendidikan Muhammadiyah Unggul versi Majlis dikdasmen PP Muhammadiyah, yaitu: (1)Terbangunnnya sistem manajemen oranisasi yang efektif, terutama dalam sistem perencanaan, pengendalian dan evaluasi; (2)Tertanya fungsi, peran dan kegiatan organisasi otonom; (3) Terbentuknya SDM pelaku dan pengelola yang andal dan berkualitas; (3)Terwujudnya model peran dan jaringan yang luas dan kokoh yang dapat menunjang amal usaha, kegiatan dan perangkat Persyarikatan; dan (4)Terbangunnya kesadaran dan fungsi pelayanan sebagai wahana dakwah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. [11]

LANGKAH STRATEGIS

            Konsekuensi  dari pesatnya perkembangan dan perubahan zaman yang serba probobalistik, maka setidaknya pendidikan Muhammadiyah harus segera dicarikan langkah-langkah solutif yang bersifat strategis agar dapat eksis sebagaimana tujuannya. Dan diantara langkah-langkah yang perlu dipikirkan bersama  adalah:

Pertama, kaji  ulang perguruan Muhammadiyah adalah ikon medium kaderisasi. Tumbuh kembang sekolah kader adalah harga mati pembentukan masa depan Muhammadiyah. Sekolah kader hendaknya memiliki karakteristik yang koheren dengan berbagai  komponnnya, seperti ideology, sistem pembelajaran, kurikulum dan materi yan disampaikan, pendidik dan sistem nilai yang dianut harus tegas. Dan menjadikan AIK[12] sebagaicore activity, core system sekolah kader. Seluruh pendidik di Muhammadiyah adalah pendidik AIK, yang harus berkemampuan untuk melakukan transfer of values nilai dasar Muhammadiyah.[13]

Kedua, Perbanyak program, silatul’amal untuk mengeliminir managemen konflik berlebihan.  Konflik yang tidak terarah dan membabi buta seringkali menyedot ‘energi kemajuan’, bahkan seringkali menjadi gurita penyakit yang meluluhlantakan ruhul jihad, persaudaraan, pertemanan, nilai kaderisasi, kehormatan dakwah, dan menjadi inti perpecahan. Lakukan quality of work life (QWL), perbanyak program yang yang lebih menantang, ‘berbeda’, ‘plus’, menarik  sekaligus  dapat melayani sebanyak mungkin pelanggan, sebab mutu=customer’s satisfaction (pelayanan utama/memberi kepuasan terhadap seluruh  pelanggan).

Ketiga,pengelola perguruan Muhammadiyah wajib secara proaktif membangun komunkasi dengan pimpinan persyarikatan di masing-masing level. Disamping membangun silaturrahim juga dengan seluruh stakeholders perguruan Muhammadiyah. Maka dikembangkan management by objective (MBO), yakni managemen yang mengutamakan kepada tujuan dan menggunakan ‘objectivisme’ sebagai dasar bagi usaha peningkatan motivasi, evaluasi dan control kelembagaan.

Keempat,mari kita transformasikan ruh Muhammadiyah ke dan di dalam amal usaha Muhamamdiyah khususnya di bidang Pendidikan, yang memahami agama adalah praksis social, daya hidupnya adalah teosentris dan aktivisme.

Kelima, lain-lain.

            Demikian, semoga bermanfaatif we dream alone it is just a dream, but if we dream together it is the dawn of reality. Amin. Nasrun minallahi wa fathun qariib.



[1] Menurut  Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammad Abduh dan Muhammadiyah”, antara Abduh dan Muhammadiyah

khususnya K.H. Ahmad Dahlan dalam hal pemikirannya memiliki beberapa kesamaan. Baik Abduh maupun Kyai

   Dahlan menggunakan dan memilih dunia pendidikan sebagai sarana untuk melakukan sebuah proses penyadaran

terhadap paradigma (cara berfikir) masyarakat.

[2] Abdul munir Mulkan, Pendidikan Bagi semua, SM nomor 16 Th. Ke-39, 13-28 Sya’ban 1429H.

[3] SM No.10 TH. Ke-91//16-31 Mei 2006M, h.4.

[4] Thomas Lickona dalam Pendidikan Karakter  Berbasis Al-Qur’an karya Bambang Q-Anees dan Adang Hambali menjelaskan bahwa pendidkan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sbagainya. 

[5] Untuk memperdalam kajian ini lebih lengkap dapt dilihat dalam tulisan H. Haidar Nashir, Rekosnstruksi Visi dan Karakter Bangsa, Bagian Akhir: Kiprah Muhammadiyah, SM No.10/Th.Ke-94, 16-13 Mei 2009.

[6] Lebih lanjut lihat ideology-ideologi PendidikanKarya  William F. O’Neil.

[7] Pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem pendidkan Nasional, Pasal 1, adalah usaha sadar dan

   terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan

   potensi  dirinya untuk  memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan

akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

[8] Dalam Konsep Ilmu Sosial Profetiknya Kuntowijoyo, istilah Humanisasi ini disandarkan kepada kalimat ta’muruna

bil ma’ruf… (Q.S. 3:110).

[9] Berita Resmi Muhammadiyah No.01/ Tahun 2005.

[10] HU PIkiran Rakyat, 26/02/2006

[11] SM No.07,TH.Ke-92/1-15 April 2007M, h.24

[12] AIK : Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

[13] Lima (5) Nilai dasar Muhammadiyah: 1)Nilai Kebajikan, amal Muhammadiyah adalah gerakan amal;2)Nilai

    Kemajuan;3)Nilai Keseimbangan;4)Nilai kebudayaan (islami); dan 5)Nilai Kekeluargaan-kebersamaan.


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori:



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website